Sudah terlalu sering masyarakat dibuat percaya bahwa setiap kripto yang mengusung label karya anak bangsa pasti layak dibeli. Dengan bungkus nasionalisme, embel-embel tokoh terkenal, atau klaim “pertama di Indonesia”, banyak orang +62 akhirnya FOMO tanpa benar-benar memahami apa yang mereka beli. Padahal, tidak sedikit proyek tersebut sejak awal hanya hidup dari hype, bukan dari teknologi.
Kita sudah melihat polanya berulang. Cyroo Asex Token, hingga token lain yang dibuat oleh figur publik atau “anak ustadz kondang” sempat dielu-elukan sebagai masa depan kripto Indonesia. Namun setelah dana terkumpul, roadmap kabur, produk tak kunjung ada, dan harga perlahan jatuh. Yang untung tentu saja pembuat dan pembeli awal, sementara masyarakat yang percaya narasi tinggal memegang token tanpa nilai.
Ironisnya, setiap proyek gagal selalu dibela dengan kalimat klasik: “Namanya juga belajar, namanya juga proyek lokal.” Seolah-olah kerugian investor adalah bagian wajar dari eksperimen. Padahal dalam investasi, kegagalan akibat ketidakjujuran dan minimnya tujuan teknologi bukanlah proses belajar, melainkan kesengajaan memindahkan uang dari banyak orang ke segelintir pihak.
Jika tujuan benar-benar investasi, jauh lebih masuk akal membeli koin mapan seperti Doge, Litecoin, Dash, atau aset lain di 20 besar market cap. Keuntungannya memang tidak bombastis, tetapi lebih aman, likuid, dan jelas arah pengembangannya. Apalagi jika disimpan di wallet pribadi dengan private key sendiri.
Mendukung karya anak +62 itu baik, tapi dalam kripto akal sehat harus tetap nomor satu. Nasionalisme tidak bisa dijadikan alasan untuk menutup mata terhadap proyek tanpa inovasi. Lebih baik untung kecil tapi aman, daripada bangga beli karya lokal yang akhirnya hanya jadi pelajaran mahal.